Kampung Bukit Tunyang berada di Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh, pada awalnya merupakan kawasan hutan dan perbukitan yang kemudian dibuka oleh masyarakat Gayo untuk dijadikan lahan permukiman dan pertanian. Kondisi tanah yang subur serta iklim yang sejuk membuat wilayah ini berkembang sebagai daerah pertanian, khususnya kopi.
Nama Bukit Tunyang diambil dari kondisi geografis wilayah yang berbukit. Selain itu, kampung ini juga dikenal dengan nama lain yaitu “Umah Lanting”. Nama tersebut berasal dari sebuah rumah milik warga yang dibangun cukup tinggi. Dalam bahasa Gayo, rumah yang tinggi dikenal dengan istilah “mupelanting” atau “lanting”, sehingga nama tersebut kemudian melekat sebagai sebutan lain kampung ini.
Dalam perkembangannya, Kampung Bukit Tunyang merupakan hasil pemekaran dari Kampung Tunyang Induk pada tahun 2004, dengan tujuan meningkatkan pelayanan dan pembangunan masyarakat. Reje (kepala desa) pertama adalah Almarhum Bapak M. Daud Edi, yang berperan penting dalam membangun dasar pemerintahan kampung. Pemekaran ini juga tidak terlepas dari peran tokoh pemuda dan tokoh masyarakat yang turut berjuang dalam pembentukan kampung.
Hingga saat ini, masyarakat Kampung Bukit Tunyang mayoritas bekerja sebagai petani, terutama kopi, serta tetap menjaga adat istiadat dan budaya Gayo dalam kehidupan sehari-hari.